June 01, 2011

Resensi Film "The Kite Runner"

"Batas Tipis Kesetiaan dan Pengkhianatan" - Saya sempat bingung saat dosen saya memberi tugas menulis resensi film. Jujur, saya lebih memilih diberi tugas menulis resensi karya tulis. Jangankan untuk menulis resensinya, untuk memilih film apa yang akan diresensi saja sudah cukup bikin pusing. Untunglah dosen saya memberikan kesempatan menonton The Kite Runner sebagai alternatif pilihan. Hasilnya, saya malah jatuh cinta pada film ini. Sangat berbeda dengan kebanyakan film lainnya, film ini lebih natural dan sangat realistis. Mungkin hal itu yang membuat film ini tampak sangat menyentuh.

Judul Film: The Kite Runner
Pengarang: Khaled Hosseini
Pemain: Khalid Abdalla, Ahmad Khan, Mahmidzada, Atossa Leoni,  Shaun Toub
Sutradara: Marc Forster (2007)
Genre: Drama


Film ini diadopsi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Khaled Hosseini. Film berdurasi hampir dua jam ini menceritakan tentang persahabatan dua orang anak yang berbeda kedudukan sosialnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan hampir semua adegan dihiasi wajah dua anak ini, Amir Khan dan Hassan.

Tokoh utama dari film ini adalah Amir Khan. Ia seorang anak dari ayah yang sering kali dipanggil oleh Amir Khan dengan sebutan Baba. Amir Khan hidup dalam kemewahan. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang antikomunis. Ayah Amir Khan adalah salah satu orang terkemuka di Afganistan. Tokoh lain yang tidak kalah penting adalah Hassan. Ia adalah sahabat Amir Khan. Hidup Hassan sangat berbeda dengan Amir Khan. Ia adalah anak seorang Pembantu di rumah Amir Khan yang bernama Ali. Bersahabat dengan Amir Khan bukanlah suatu hal yang mudah baginya karena dirinya kerap kali disudutkan sebagai seorang Hazzara (sebuah kaum “terbuang” di Afghanistan dan dianggap berkedudukan paling rendah karena perawakannya yang lebih menyerupai bangsa Mongol dari Asia).

Hassan dan Amir Khan tidak hanya berbeda status sosial tetapi juga berbeda karakter. Hassan memiliki karakter yang pipih. Dari awal hingga akhir film karakternya selalu stabil terkesan monoton. Berbeda dengan Amir Khan yang berkarakter bulat lebih mendekati karakter orang pada umumnya. Tokoh lain yang juga ambil bagian dalam pembentukan jalan hidup Amir Khan adalah Rahim Khan, paman Amir Khan, ia selalu memberikan semangat menulis pada Amir Khan. Ia menemukan sisi lain dari Amir Khan yang tidak diperhatikan oleh Baba.

Latarbelakang kultur kehidupan Afghanistan sangat kental di film ini. Kita dapat melihat bagaimana kondisi ekonomi, politik, sosial, hingga pertahanan Afghanistan saat itu. Sepertinya konflik yang sering terjadi di Afghanistan membuat Khaled Hossein tertarik untuk sedikit banyak mengekspos suasana perang yang terjadi di sana. Secara tidak langsung Khaled mengatakan bahwa perang telah menyengsarakan banyak orang yang tidak berdosa. Mungkin yang terjadi adalah invasi politik terhadap suatu wilayah. Namun, efek samping yang terjadi adalah semua penduduk sipil ditelanjangi hak-hak asasi nya dengan mengatasnamakan agama ataupun kepentingan lain. Keadaan yang digambarkan sangat menyayat hati siapapun yang menontonnya.

Film ini beralur maju mundur. Kisah dimulai dengan Amir Khan dewasa di Amerika yang menerima telepon dari Rahim Khan pamannya untuk segera datang ke Irak untuk menemuinya. Saat itulah pikirannya beralih ke ingatannya masa kecilnya di Afghanistan bersama Hassan sahabatnya. Begitu gamblang Amir Khan mengisahkan kembali ingatan masa kecilnya. Hidup sebagai anak orang kaya tidak membuatnya bahagia. Sejak kecil ia telah dibayang-bayangi rasa bersalah atas kematian ibunya saat melahirkan dirinya. Itu membuat Amir Khan kecil menjadi pribadi yang pendiam dan tenang. Ia tumbuh menjadi anak tidak dapat membela dirinya sendiri. Baginya menjauhi masalah adalah yang terpenting. Sikap inilah yang membuat Baba membandingkan Amir Khan dengan anak pembantunya Hassan. Ia sangat simpati terhadap Hassan. Ia tahu bahwa Hassan yang selama ini melindungi Amir Khan setiap ada anak yang ingin mengganggunya. Ia sangat tidak menyukai cara Amir Khan yang selalu mencari aman dibalik kebaikan Hassan.

Hingga suatu hari keegoisan Amir Khan terhadap Hassan semakin menjadi. Hari itu, Amir Khan memenangkan pertandingan layang-layang, sebuah pertandingan bergengsi di Afghanistan. Hassan ingin menghadiahkan layang-layang putus milik lawan Amir Khan. Saat itulah tiga orang anak yang lebih tua mengejar Hassan untuk merebut layang-layang itu. Namun, karena tidak mau menyerahkan layang-layang itu, Hassan disodomi oleh Sheff, pemimpin dari geng itu. Amir Khan mengetahui situasi yang dihadapi Hassan. Akan tetapi, ia hanya bersembunyi dan pergi dari tempat itu. Saat Hasan datang sambil menahan sakit, Amir Khan hanya berpura-pura tidak mengetahui apapun. Ternyata kejadian itu membuatnya gelisah karena kesetiaan Hassan yang berlebihan untuknya. Ia malu karena ia sendiri tidak dapat berbuat yang sama untuk Hassan. Akhirnya ia menjauh dari Hassan. Ia menjebak Hassan agar Hassan dapat pergi dari rumah Baba. Ia menuduh Hassan telah mencuri jam tangan yang Baba hadiahkan untuknya. Hal itu ternyata disadari oleh Hassan. Akhirnya Hassan berbohong dan mengakui tuduhan tersebut. Baba mengampuni Hassan yang jujur. Namun, Ali memutuskan untuk tetap pergi dari rumah itu.

Tidak berselang lama, Uni Soviet melaksanakan invasi ke Afghanistan. Baba yang antikomunis pun pergi membawa Amir Khan pergi ke Amerika mencari kebebasan. Di Amerika, Baba bekerja menjadi pekerja pompa ban. Berkat kerja kerasnya ia berhasil menyekolahkan Amir Khan di college hingga Amir Khan lulus. Setelah lulus Amir Khan memutuskan untuk menjadi penulis dan ia menikahi Soraya, anak seorang mantan Jenderal Afghanistan yang juga seorang pelarian.

Ingatan Amir Khan kembali ke saat ia menerima telepon. Ia pun memutuskan datang ke Irak menemui pamannya. Sesampainya di Irak pamannya memberitahukan bahwa Hassan telah meninggal akibat mengorbankan nyawanya demi rumah Amir Khan yang dijaganya. Hassan menitipkan surat untuk Amir Khan. Dalam surat itu ia menyatakan betapa bangganya ia pada Amir Khan. Satu hal yang penting dalam surat itu adalah Hassan ingin Amir Khan membawa Sohrab anaknya ke Amerika karena Afghanistan sudah tidak aman lagi. Akhirnya, dengan bantuan seorang sopir kenalan Rahim Khan, ia pergi ke Aghanistan. Disana ia harus menerima kenyataan bahwa Sohrab telah berada dalam genggaman Sheff yang telah menjadi salah satu pemimpin Taliban di Afghanistan. Setelah melewati rintangan demi rintangan akhirnya Amir Khan berhasil membawa Sohrab keluar Afghanistan. Sejak saat itu Sohrab dirawat oleh Amir Khan seperti anaknya sendiri.

Film ini sangat menarik karena sarat akan nilai-nilai kehidupan. Kita diajak memahami begitu banyak pilihan. Kita diajak belajar dari sikap Amir Khan yang telah berhasil memaknai hubungannya dengan Hassan justru saat orang Hassan tiada. Kesetiaan Hassan padanya membuat Amir Khan tidak hanya menyesali pengkhianatannya namun justru merubahnya sebagai suatu keberanian untuk mempertahankan apa yang masih dapat dipertahankan dari Hassan yaitu Sohrab. Satu pesan sederhana namun mengena adalah pesan Baba kepada Amir Khan : Jangan Mencuri. Pesan itu sepertinya juga menyindir kita karena saat ini orang tidak lagi memikirkan hak orang lain demi kepuasan dan kekayaan pribadi.

Film yang bergenre drama ini mengajak penonton menyadari bahwa sikap kita yang hanya ingin mencari aman dapat menjadi petaka bagi orang yang kita sayang. Secara tidak langsung film ini juga menyindir sifat-sifat orang pada umumnya seperti keegoisan, sifat mau menang sendiri, dan lari dari masalah. Keegoisan tampak tentu saja tampak dari sikap Amir terhadap Hassan. Keangkuhan mungkin dapat terlihat dari sikap mertua Amir yang notabene mantan seorang Jenderal. Ia tetap saja merasa memiliki tingkatan yang lebih tinggi walaupun sama-sama dalam pelarian. Selain itu sikap fanatik ayah Amir Khan yang sangat ekstrim terhadap komunis juga menjadi sindiran yang malah dapat menghibur. Sikap ini tampak saat ayah Amir Khan mendorong dokter imigran dari Rusia yang memeriksanya. Film ini juga secara eksplisit mengkritik tindakan Taliban yang tidak bermoral hanya karena merasa mendapat “mandat” dari Tuhan. Taliban yang merasa diri mereka adalah orang-orang pilihan Tuhan malah berbuat layaknya seorang Hittler.

Film ini disajikan sangat menarik. Adegan saat pertandingan layang-layang juga sangat memukau. Layang-layang seolah bermanuver berirama seperti pertunjukan pesawat tempur jet yang melesat dengan cepat. Efek suara yang digunakan saat perang pun tidak terlalu berlebihan sehingga penonton tidak melulu dibuat kaget oleh suara peluru atau bom seperti film perang kebanyakan. Walaupun begitu, penonton tetap dapat merasakan tegangnya peperangan. Film ini menampakkan kondisi peperangan di Afghanistan tanpa melebih-lebihkan dengan tidak menampakkan kekerasan dan pelecehan hak-hak korban perang secara langsung.

Akhirnya saya berani jamin anda tidak akan kecewa menonton film ini. Film ini cocok untuk dinikmati penonton dari segala usia dan kalangan. Film ini sungguh menunjukkan betapa tipis jarak kesetiaan dan pengkhianatan dalam persahabatan…

Ditulis Oleh : Lilik Wijayawati // 12:00 AM
Kategori:

0 comment:

Post a Comment