Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts

May 01, 2010

Filosofi Kota Yogyakarta

Kraton merupakan duplikat kosmos yang memiliki kekuatan sentrifugal dengan lingkungannya. Bentuk bangunan Kraton, yang nantinya menjadi sumber bagi planologi kota Yogyakarta penuh dnegan symbol hidup dan kehidupan manusia. Hubungan Tuhan-Manusia,-alam semesta tergambar dalam bentuk bangunan yang memberikan pemahaman filosofis, baik secara metafissis maupun antropologi filsafati.

Kawasan kraton yang membentang lebih dari 5 km itu merupakan kesatuan kosmologis AUM (Agni/Gunung Merapi, Udaka/ Laut Selatan, dan MAruta/Udara bebas atau segar, di atas Sitihingil, yaitu tanah yang ditinggikan sebagai pengejawantahan akan harkat manusia yang atas perkenaan Tuhan Yang Maha Esa, diangkat atau ditinggikan sebagai Khalifatulah. Itulah unsur Ibu Pertiwinya. Sedangkan unsure kebapak-Angkasanya mencakup Surya, Candra, Kartika yang kesemuanya itu mencakup secara integral pada nama/tekad Hamungkubuwono.”

Corak pembentukan kota Yogyakarta pada hakekatnya merupakan implementasi dari konsep P. Mangkubumi 1755, yang berdasarkan pada bentuk tata tubuh manusia, dimana kota Yogyakarta terbagi menjadi 2 wilayah, bagian selatan merupakan symbol rohani dan bagian utara merupakan simbol duniawi.

Planologi kota Yogyakarta juga didasarkan pada keserasian makna filosofis sumbu imaginer yang merupakan garis lurus Krapyak-Kraton-Tugu, yang masing-masing di antaranya berdiri bangunan-bangunan yang mempunyai arti dan makan tentang proses kehidupan manusia, mulai dari lahir sampai mati.

Pembangunan Yoggyakarta ditandai dengan condrosengkolo memet di pintu gerbang Kemangangan dan di pintu gerbang Gedung Mlati, berupa dua ekor naga berlilitan satu sama lainnya. Dalam bahasa Jawa “ Dwi Naga Rasa tunggal”. Artinya Dwi = 2, naga = 8, rasa = 6, tunggal = 1. Dibaca dari belakang menjadi 1682.

1. Krapyak adalah gambaran tempat asal roh-roh. Di sebelah utaranya terletak kampong Mijen, berasal dari perkataan Wiji (benih), jalan lurus ke utara, di kana kini dihiasi pohon Asem dan Tanjung, menggambarkan kehidupan sang anak yang lurus, bebas dari rasa sedih dan cemas, rupanya nengsemaken serta disanjung-sanjung selalu.

2. Plengkung Nirbaya (Plengkung Gading). Plengkung ini menggambarkan periode sang anak menginjak dari masa kanak-kanak ke masa pra puber. Dimana sifatnya masih nengsemaken (pohon asem) dan jukan suka menghias diri (nata sinom). Sinom merupakan daun asam yang masih muda.

3. Alun-alun selatan. Di sini terdapat dua pohon beringin yang disebut Wok. Wok berasal dari kata brewok. Dua pohon beringin di tengah-tengah alun-laun ini menggambarkan bahagian badan yang paling rahasia, oleh sebab itu diberi pagar batu. Jumlah dua menunjukan laki-laki, sedangkan namanya Supiturang melambangkan perempuan. Disekitar alun-alun ini terdapat lima buah jalan yang bersatu sama lain, menujukan panca indra. Tanah berpasir artinya belum teratur, lepas satu sama lain. Apa yang ditangkap belum teratur oleh panca indera, Keliling alun-alun ditanami pohon Kweni dan Pakel artinya sang anak sudah wani (berani karena sudah akal balig)

4. Sitihinggil, arti harfiah tanga yang ditinggikan. Di sini terdapat sebuah tratag atau tempat beristirahat beratap anyaman bambu. Kanak kiri tumbuh pohon gayam dengan daun-daunnya yang rindang sertya bunga-bunganya harum sekali. Siapa saja yang berteduh dibawah tratag ini akan merasa aman, tentram senang dan bahagia. Menggambarkan rasa pemuda-pemudi yang sedang dirindu asmara.

Konsep lain dengan esensi yang sama disampaikan oleh KRT Puspodiningrat (Puspodiningrat, 84;4) bahwa Sitihinggil terdapat dua bangunan untuk penjagaan abdi dalem Gandheg= penghubung = penggandeng. Nama depan hamba (abdi) ini adalah Duto dan Jiwo, dengan maksud Andudut Jiwa =jiwanya ditarik bersamaan antara laki-laki dan perempuan menyalakan api percintaan.

5. Halaman kemandungan, menggambarkan benih dalam kandungan sang ibu.

6. Regol Gadung mlati sampai kemanggangan merupakan jalan yang sempit kemudian melebar dan terang benderang. Suatu gambaran Anatomis kelahiran sang bayi. Di sini bayi kemudian magang (kemagangan) menjadi calon manusia dalam arti sesungguhnya.

7. Bangsal Mangun-Tur-Tangkil, sebuah bangsal kecil yang terletak ditratag Sitihinggil, Jadi sebuah bangsal di dalam bangsal yang mempunyuai arti bahwa di dalam badan kita (wadag) ada roh atau jiwa. Manguntur Tangkil berarti tempat yang tinggi untuk anangkil, yaitu menghadap Tuhan yang Maha Kuasa dengan cara mengheningkan cipta atau bersamadi.

Di belakang bangsal in terdapat sebuah bangsal lagi yang disebut bangsal Witono, yang mengandung arti wiwit ono (mulailah), merupakan awal kegiatan spiritual manusia mendekatkan diri dengan Tuhan.

8. Tarub Hagung, merupakan bangunan yang mempunyai 4 tiang tinggi dari pilar besi yang mempunyai bentuk empat persegi. Arti bangunan ini iadalah: siapa yang gemar samadi, sujud kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berada selalu dalam keagungan.

9. Pagelaran, yang berasal dari kata Pagel = pagol = pager = batas dan aran = nama. Dimana habislah perbedaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, terutama di hadapan Tuhan. Sehingga semua kalangan di dalam kraton yang menggunakan bahasa yang sama yaitu bahasa karma inggil yang diubah, yang disebut bahasa bagongan.

10. Alun-alun utara(lor) menggambarkan suasana nglangut, suasana tanpa tepi, suasana hati kita dalam samadi. Pohon beringindi tengah alun-alun menggambarkan suasan seakan-akan kita terpisahkan dari diri kita sendiri. Mikrokosmos bersatu dalam makrokosmos. Simpang empat di sebelah utara menunjukan godaan dalam samadi. Apakah kita memilih jalan lurus (Siratal mustaqim) atau menyimpang ke kanan-kiri.

11. Pasar Beringhardjo, pusat godaan setelah kita mengambil jalan lurus berupa godaan akan wanita cantik, makanan yang lezat serta barang-barang mewah.

12. Kepatihan, lambang godaan akan kedudukan atau kepangkatan.

13. Sampailah kita pada Tugu, simbol dari tempat Alif Mutakaliman Wachid, bersatunya kawulo lan gusti, bersatunya hamba dan Tuhan. Manunggaling kawulo lan gusti secara konsepsional dapat dibahas dalam Manunggaling Kawulo Gusti (P.J. Zoetmulder, 1990)

Content credit: wayahdi.blogspot.com
Image credit: juniasih.files.wordpress.com

April 15, 2010

Filosofi Makan Pinang Sirih

Pinang (Areca catechu L) konon berasal dari tanah Malaya (Malaysia), bagi orang Papua bisa diibaratkan seperti kudapan sehari-hari. Di Papua pinang biasa dimakan tidak hanya oleh orang lanjut usia tetapi juga untuk anak kecil. Selain itu pinang juga digunakan dalam acara-acara penting adat seperti upacara kelahiran, perkawinan, atau ritual adat lainnya. Ada empat bahan yang mementuk kesatuan yaitu sirih, kapur, dan gambir. Namun karena keempat bahan itu hanya ditemukan di kawasan Indonesia Barat, maka orang Papua tidak menggunakan ini.

Sirih adalah tanaman tropis, tumbuh di Madagaskar, Timur Afrika, dan Hindia Barat. Sirih yang terdapat di Semenanjung Malaysia ada empat jenis, yaitu sirih Melayu, sirih Cina, sirih Keling, dan sirih Udang. Dalam bahasa Indonesia, dikenal berbagai nama jenis sirih seperti sirih Carang, Be, Bed, Siyeh, Sih, Camai, Kerekap, Serasa, Cabe, Jambi, Kengyek, dan Kerak. Sirih, konon melambangkan sifat rendah hati, memberi, serta senantiasa memuliakan orang lain. Makna ini ditafsirkan dari cara tumbuh sirih yang memanjat pada para-para, batang pohon sakat atau batang pohon api-api tanpa merusakkan batang atau apapun tempat ia hidup. Dalam istilah biologi disebut simbiosis komensalisme. Daun sirih yang lebat dan rimbun memberi keteduhan di sekitarnya.

Lain sirih, lain lagi kapur. Kapur diperoleh dari hasil pemrosesan cangkang kerang atau pembakaran batu kapur. Secara fisik, warnanya putih bersih, tetapi reaksi kimianya bisa menghancurkan. Kapur melambangkan hati yang putih bersih serta tulus, tetapi jika keadaan memaksa, ia akan berubah menjadi lebih agresif dan marah.

Pinang dalam bahasa Hindi buah ini disebut supari, dan pan-supari untuk menyebut sirih-pinang. Bahasa Malayalam menamakannya adakka atau adekka, sedang dalam bahasa Sri Lanka dikenal sebagai puvak. Masyarakat Thai menamakannya mak, dan orang Cina menyebutnya pin-lang. Pinang merupakan lambang keturunan orang yang baik budi pekerti, jujur, serta memiliki derajat tinggi. Bersedia melakukan suatu pekerjaan dengan hati terbuka dan bersungguh-sungguh. Makna ini ditarik dari sifat pohon pinang yang tinggi lurus ke atas serta mempunyai buah yang lebat dalam setandan.

Seperti sirih, gambir juga adalah tumbuhan yang terdapat di Asia Tenggara, termasuk dalam keluarga Rubiaceae. Daunnya berbentuk bujur telur atau lonjong, dan permukaannya licin. Bunga gambir berwarna kelabu. Gambir juga dimanfaatkan sebagai obat, antara lain untuk mencuci luka bakar dan kudis, mencegah penyakit diare dan disentri, serta sebagai pelembap dan menyembuhkan luka di kerongkongan. Gambir memiliki rasa sedikit pahit, melambangkan keteguhan hati. Makna ini diperoleh dari warna daun gambir yang kekuning-kuningan serta memerlukan suatu pemrosesan tertentu untuk memperoleh sarinya, sebelum bisa dimakan. Dimaknai bahwa jika mencita-citakan sesuatu, kita harus sabar melakukan proses untuk mencapainya.

Dengan memakan serangkai pinang sirih dan kapur ini, merupakan simbol dari harapan untuk menjadi manusia yang selalu rendah hati dan meneduhkan layaknya sirih. Hati bersih, tulus tapi agresif seperti kapur. Jujur, lurus hati dan bersungguh-sungguh layaknya pohon pinang. Dan jika ditambah gambir berarti sabar dan hati yang teguh bak sang gambir.

Content credit: waymagz.blogspot.com
Image credit: thecrowdvoice.com

March 01, 2010

Menilik Sejarah Penamaan "Toponim" Kampung Yogyakarta


Nama-nama kampong di Yogyakarta memiliki keunikan tersendiri daripada nama-nama kampung di tempat lain. Ada kampung yang namanya didasarkan pada profesi yang banyak ditekuni warganya, golongan kerabat dan pejabat, keahlian abdi dalem hingga nama pasukan prajurit. Kampung-kampung itu berdasarkan letaknya bisa dibagi menjadi 2 wilayah, yaitu Jeron Beteng (kawasan dalam kompleks Kraton Yogyakarta) dan Jaba Beteng (kawasan di luar kompleks kraton Yogyakarta).

Kampung di wilayah Jeron Beteng umumnya dinamai berdasarkan keahlian abdi dalemnya, sebab kampung-kampung itu dulu merupakan tempat tinggal abdi dalem yang sehari-hari menangani urusan rumah tangga kraton.

Nama Mantrigawen diambil karena warganya merupakan abdi dalem kepala pegawai, sementara nama Gamelan diambil karena warganya bermatapencaharian sebagai pembuat tapal kuda. Siliran merupakan tempat tinggal abdi dalem Silir yang bertugas menyalakan lampu penerangan dan Namburan ditinggali abdi dalem yang bertugas membunyikan gamelan. Patehan adalah rumah abdi dalem pembuat teh sedangkan Nagan adalah kediaman penabuh gamelan Jawa.

Menuju kawasan Jaba Beteng, anda bisa menjumpai kampung-kampung yang ditinggali hamba istana lainnya, seperti pengurus administrasi, prajurit, pengrajin, kaum profesional dan bangsawan lainnya. Beberapa kampung yang bisa dijumpai menurut data YogYES adalah Pajeksan, Jlagran, Dagen, Gandekan, Gowongan, Wirobrajan, Patangpuluhan, Prawirotaman, Mantrijeron dan Bugisan. Mengelilinginya dari utara ke selatan lebih mudah sebab persebaran kampung itu mulai dari Tugu hingga Panggung Krapyak.

Nama Pajeksan diambil karena kawasan itu didiami jaksa, sementara Dagen diambil karena dulu merupakan tempat tinggal tukang kayu. Gowongan merupakan tempat tinggal tukang bangunan sedangkan Jlagran didiami tukang batu. Kampung lain seperti Prawirotaman, Mantrijeron, Bugisan, Wirobrajan, Patangpuluhan serta Jogokrayan adalah kediaman prajurit pasukan Prawirotomo, Mantrijero, Wirobrojo, Bugis, Patangpuluh, dan Jogokaryo.

Seiring perkembangan dan makin pluralnya penduduk kota Yogyakarta, mulai tahun 1900-an bermunculan pula kampung-kampung lain di Jaba Beteng. Umumnya, kampung-kampung terbagi berdasarkan etnisnya sehingga dinamai berdasarkan etnis yang mendominasi. Beberapa kampung yang bisa dikunjungi antara lain Kranggan, Pecinan, Sayidan, Menduran, Loji Kecil, Kotabaru, dan Sagan. Selain sebagai tempat tinggal, kampung-kampung itu juga berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi.

Kampung Kranggan yang terletak di utara Tugu dan Pecinan yang terletak di selatan Malioboro dulu didiami oleh orang-orang Cina. Kampung Sayidan menjadi tempat tinggal orang-orang Arab sementara Menduran ditinggali oleh orang-orang Madura. Keturunan Eropa yang umumnya merupakan orang Belanda tinggal di wilayah Loji Kecil yang terletak di dekat Benteng Vredeburg, Kotabaru yang terletak di timur laut Malioboro, dan Sagan yang ada di dekat Jalan Solo.

Jejak kejayaan masa lalu di beberapa kampung itu juga masih bisa dilacak. Kawasan Loji Kecil dan Kotabaru memiliki bangunan bernuansa indies sebagai bukti bahwa dulu banyak didiami orang Eropa. Beberapa toko di Pecinan (kini dinamai Jalan Jendral Ahmad Yani) hingga kini masih berdiri sehingga bisa menjadi saksi kejayaan pedagang Cina masa lampau. Kampung-kampung Jeron Beteng menyimpan bangunan-bangunan khas Jawa yang menjadi kediaman abdi dalem.

Content credit: yogyes.com
Image credit: jogjawae.com

February 01, 2010

Sejarah Yogyakarta

Saat pertama kali didirikan oleh Pangeran Mangkubumi pada saat itu, Yogyakarta bernama Ngayogyakarto Hadiningrat. Luas Yogyakarta sekitar 3.186 km persegi, dengan total penduduk 3.226.443 (Statistik Desember 1997). Semula Yogyakarta merupakan bagian dari Kerajaan Mataram namun, mulai 1755 Kerajaan Mataram dibagi menjadi Yogyakarta dan Surakarta(Solo). Keraton Yogyakarta memegang kebudayaan murni di tengah modernisasi selama berabad-abad.

Affandi
Yogyakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa seperti tarian, lukisan, wayang kulit, musk gamelan, hingga kesenian lainnya. Selain kesenian tradisional ada pula seni kontemporer yang dimajukan oleh ASRI (Akademi Seni Rupa) yang memiliki nilai penting dalam perkembangan seni likus modern di Indonesia, contohnya saja pelukis abstrak Affandi.

Yogyakarta adalah kota yang padat penduduk dan merupakan pintu gerbang untuk mencapai tengah pulau Jawa. Yogyakarta juga dapat ditempuh oleh segala alat transportasi, dari bus, kereta api, dan pesawat.

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (disingkat dengan Jogja), merupakan salah satu dari 34 propinsi di Indonesia. Propinsi ini dibagi menjadi 5 daerah tingkat II, Kotamadia Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunung Kidul.

Berdasarkan sejarah, sebelum 1755 Surakarta merupakan ibukota Kerajaan Mataram. Setelah perjanjian Gianti (Palihan Nagar) pada 1755, mataram dibagi menjadi 2 kerajaan: Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Mengikuti kebiasaan, Pangeran Mangkubumi, adik Susuhunan Pakubuwono II, dimahkotai sebagai Raja Ngayogyakarto Hadiningrat. Kemudian beliau disebut sebagai Sultan Hamengku Buwono I. Pada tahun 1813, dibawah penjajahan Inggris, pemisahan kerajaan Mataram terjadi untuk ketiga-kalinya. Pangeran Notokusumo, putra dari Hamengku Buwono I, dimahkotai sebagai Pangeran Paku Alam I. Kerajaannya terpisah dari Kasultanan Yogyakarta. Ketika Republik Indonesia berdiri pada 17 Agustus 1945, yang dilambangkan dengan penandatanganan Proklamasi Kemerdekaan, Ngayogyakarto Hadiningrat dan Pakualaman menyatu sebagai salah salah satu propinsi di Indonesia dimana Sri Sultan Hamengku Buwono IX ditunjuk sebagai gubernur dan Sri Paku Alam VIII sebagai wakil gubernurnya.

Propinsi ini juga diakui sebagai tempat menarik untuk para periset, ahli geologi, ahli speleogi dan vulkanologi merujuk pada adanya gua-gua di daerah batuan kapur dan gunung berapi yang aktif. Di selatan kabupaten Gunung Kidul merupakan ujung laut, dimana terdapat beberapa fosil biota laut dalam batuan kapur sebagai buktinya. Untuk para arkeolog, Yogyakarta sangat menarik sebab setidaknya ada 36 candi / situs-situs sejarah disini. Ada beberapa peninggalan peradaban dari abad ke-9.

Yogyakarta memiliki lingkungan yang indah, arsitektur tradisional, kehidupan sosial, dan upacara-upacara ritual membuat Yogyakarta menjadi tempat paling menarik untuk dikunjungi. Sesuai namanya, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memang benar-benar istimewa. Orang-orangnya sangat ramah. Hal ini membentuk kehidupan dan kelakuan mereka.

Content credit: kwartetwowisata.blogspot.com
Image credit: indonesiadalamkenangan.blogspot.com | artkimianto.blogspot.com